top of page

Kisah Zaid bin Khattab, Sang Rajawali Pertempuran Yamamah pt. 1

  • Gambar penulis: Emma Leonard
    Emma Leonard
  • 5 Okt 2020
  • 3 menit membaca



Assalamualaikum wr wb


Assholatuwassalam u ala ashrofil ambiya i wamursalin, sayyidina muhammadin wa ala alihi washobihi ajmain. Amma ba’du


Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT, rabb semesta Alam, karena atas limpahan rahmat dan kasih sayangnya, kita masih diberikan kesempatan untuk terus mempelajari islam bersama Princess pada hari ini.


Tak lupa sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita, Rasulullah Muhammad SAW, sosok yang membawa umat manusia keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya yang terang benderang, yaitu islam rohmatan lil alamin.


Jazakunnallah khairan katsiran kepada seluruh sobat Princess yang menyempatkan waktunya untuk mendengarkan kisah sahabat yang pastinya inspiratif.


Untuk Inspiring Forum kali ini akan membahas salah satu sahabat Rasulullah, beliau adalah kakak laki laki Umar bin Khattab. Siapa dia? Yaa, beliau adalah Zaid bin Khattab! (Sang Rajawali Pertempuran Yamamah)

Apa sih spesialnya dari sahabat Zaid bin Khattab?

Beliau itu dikenal sebagai sosok yang sangat serius untuk menjalani kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Buktinya ya dengan adanya target beliau yang jelas, mulai dari dunia hingga menuju ke akhirat, beliau sangat fokus untuk mengapai tujuannya hingga tak lepas dari namanya target. Bahkan beliau mendapatkan gelar ”Rajawali Pertempuran Yamamah“

Ngomong-ngomong tentang target, salah satu target kalian sekarang apa? Pasti salah satunya adalah mendapatkan nilai yang baik dan mendapatkan ilmu yang barokah bagi mahasiswa dan pelajar yang masih di bangku sekolah. Ilmu yang diperoleh bisa dibuat untuk bekerja atau untuk kebutuhan masyarakat sekitarnya.

Sedangkan bagi yang bekerja pasti juga punya target untuk menyukseskan usahanya. Bekerja dengan giat dari terbitnya matahari hingga matahari terbenam di ufuk barat. Bahkan ada yang sampai merelakan dirinya untuk merantau jauh dan tidak bisa pulkam sementara hingga satu semester karena pandemi. Jadi sampai harus menahan rasa rindu bertemu keluarga. Gaji yang sudah didapatkan dipersembahkan pada orangtua tercinta, untuk membalas jasa orangtua saat membesarkan anaknya.

Yah, saya doakaan untuk sobat semua yang hadir dan sedang mendengarkan rekaman ini semua targetnya tercapai ya Allah, aamin ya robbal alamiin.

Yap, kita kembali ke persoalan target.

Sekarang saya tanya ya, bagaimana sih antunna membuat target? Apa tujuan yang ingin antunna raih? Semoga kalian tetap menjadikan ridla Allah sebagai tujuan utama dalam menjalani kehidupan. Hiduplah dengan semboyan “kerjakanlah perintah Allah, tinggalkanlah larangan Allah. Insya Allah, Allah akan ridha dengan perbuatan kita”

Tapi sayangnya, tidak semua orang memiliki tujuan dan target yang semulia itu. Bahkan ada yang malah tidak fokus sama sekali saat menjalani kehidupan ini.

Misalnya si fulan, saat sekolah atau kuliah, ada tugas banyaaaakk, dan dikerjakan fulan asal-asalan dan mepet dengan deadline. Pokok segera selesai, urusan pun selesai. Jadi tidak maksimal semua. Bahkan guru maupun dosen dapat membaca tugas fulan yang semrawut itu bahwa dikerjakan H- beberapa jam lalu.

Berangkat sekolah atau kuliah saat pagi atau kapanpun itu, ikut pelajarannya sambil berharap segera cepat selesai, biasanya sambil liat jarum jam yang lama bergeraknya, akhirnya selesai, dan rebahan. Itu dilakukan tiap hari dan tiba-tiba tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Seolah-olah sekolah atau kuliah ndak dapat ilmu sama sekali. Begitu juga dengan bekerja. Bekerja terus menerus tanpa tahu tujuan hidup.

Sobat, kegiatan tersebut menggambarkan bahwa mereka tidak fokus sama sekali apa yang sedang dikerjakannya. Bisa-bisa hasilnya nihil di hadapan Allah. Yah meskipun Allah juga menilai dari suatu proses, tapi proses apa sih yang sudah kita lakukan untuk menuju akhiratNya? Apakah kegiatan tadi sudah cukup untuk menggapai ridha Allah?

karena ketika manusia tidak fokus dan tidak memiliki tujuan yang pasti di dunia, maka sudah pasti tersesat pula di akhirat.

Allah berfirman dalam surat Al Isra ayat 72 :

وَمَن كَانَ فِى هَٰذِهِۦٓ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

Terrjemah Arti: Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).

Inilah bahaya yang didapatkan ketika tidak punya tujuan, maka akan buta dan tersesat yg tdk hanya di dunia, namun juga di akhirat.

Ngeri ya, lantas bagaimana cara agar tidak tersesat di akhirat besok?

Nah sobat, di sini saya akan berbagi kisah shabat yang sangat fokus dan mendedikasikan hidupnya hanya untuk Allah semata. Yaitu Zaid bin Khattab, masnya Umar bin Khattab. Beliau ndak pernah sekali pun tidak lepas dari target alias FOKUS bak rajawali yang mengincar mangsanya. Inilah yang menjadi penyebab beliau berhasil meraih tujuannya.

“Ah mbak, beda lah. Kita mah manusia biasa, bahkan bagaikan butiran debu di atas keset. Wajar beliau spesial karena sahabat Rasul gitu”

“Beda kualitas lah mbak, kita gak akan pernah bisa menyamai kualitasnya dengan beliau. Zaid bin Khattab kan juga masih hidup bersama Rasul, jadi enak mbak. Faktanya begitu ee mbak”

Itulah perkataan yg selalu muncul jika ada yg meyampaikan utk menjadikan para sahabat Rasul panutan kita.

Haloo, sahabat Rasul itu manusia biasa. Kita dan mereka sama-sama punya hajatul udwiyah, yaitu kebutuhan hidup. Kita dan beliau sama-sama makan, minum, bernafas, dan beribadah. lantas seharusnya ga ada lagi penghalang bagi kita untuk berfastabiqul khairat dengan meneladani salah satu sahabat Rasul yang super ini.

Penasaran? So stay tune.

Komentar


Post: Blog2 Post

©2020 Zahrah Leonard

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter
bottom of page