top of page

Salman Al Farizi (Pencari Kebenaran Sejati) part 2

  • Gambar penulis: Emma Leonard
    Emma Leonard
  • 7 Sep 2020
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 5 Okt 2020


Siapa yg tak kenal Salman Al Farizi, seseorang yg berasal dari Asbahan, Persia. Ayahnya seorang kepala kampung di daerah tsb, dan Salman sangat disayangi oleh nya. Seorang sahabat Rasulullah, yang dalam perjalanan menemukan kebenaran sejatinya yaitu islam, dengan penuh lika-liku.




Sedari kecil, Salman Al Farizi penganut majusi, di samping itu beliau hidup dalam bergelimpangan kekayaan dari orang tuanya. Bahkan ayahnya memiliki sebidang tanah. Suatu hari beliau disuruh untuk ke sana oleh ayahnya. Dalam perjalanan ke tempat tujuannya, beliau melewati gereja milik kaum nasrani yg sedang mengadakan kebaktian, lalu Salman kagum melihat cara mereka beribadah. Sampai matahari terbenam pun Salman belum beranjak, hingga ayahnya mengirim orang untuk menyusulnya. Ketika sampai dirumah, Salman bercerita kepada ayahnya bahwa agama nasrani ini telah menarik hatinya dan Salman pun menganut agama nasrani ini. Namun siapa sangka ayahnya tidak terima bahkan kaki anaknya yaitu salman Al farizi diikat dan dipenjarakan.


Hingga akhirnya Salman mampu memutus rantai yg membelenggu kakinya dan meloloskan dari penjara, lalu bergabung dengan rombongan nasrani yang menuju syiria. Ketika telah sampai di tujuan, ia menanyakan siapakah ahli agama nasrani itu. Lalu seseorang menjawab bahwa uskup, pemilik gereja lah yg ahli dalam agama nasrani tsb. Salman pun menemuinya hingga tinggal bersamanya. Hingga uskup tsb meninggal dunia. Tak berhenti sampai disitu saja, Salman terus mencari uskup-uskup baru untuk ia belajar. Namun tak semudah yg dibayangkan, ternyata di sela-sela ia mencari uskup baru untuk belajar, ia justru mendapati perlakuan yang tidak enak dari orang2.


Salman pernah dijual oleh seseorang dari jazirab Arab dan dibeli oleh seorang Yahudi bani quraizhah. Dan dibawanya ke madinah, tempat penuh dengan kebun kurma, dan disanalah ia menjadi budak. Pada saat ini, salman masih mencari-cari kebenarannya, agama apa sih yg membuat pikiran dan jiwanya bersih, meskipun ia masih menganut nasrani. Hingga pada akhirnya ia teringat dengan wasiat dari pendeta mosul, pendeta yang terakhir diikutinya, bahwa akan muncul seorang Nabi terakhir yang mengikuti agama Ibrahim yang lurus.


Dengan wasiat inilah, akhirnya salman menemukan kebenaran sejatinya yaitu agama islam, setelah salman mampu menemukan kebenaran dari isi wasiat pendeta mosul tadi, yang ternyata mengarah kepada Rasulullah SAW. Ia bertemu dengan Rasulullah, dan di hadapannya ia mengatakan syahadat untuk masuk islam kepada baginda Rasulullah.


Sobat, pencarian Salman ini tidaklah mudah, ia harus rela meninggalkan kekayaannya, rela berpergian jauh bahkan dijual. Namun perjuangan mencari kebenaran nya itu tidak sia-sia, bahkan hingga meninggal pun Salman masih terus teguh dalam pendiriannya yaitu islam.


Ketika Salman masuk islam pun, ia buktikan dengan kesungguhannya yaitu untuk taat syariat islam secara kaffah atau keseluruhan. Karena Salman paham, bahwa islam bukan hanya agama ritual saja atau mengurus perkara ibadah saja (habluminallah) , namun Salman tau bahwa islam mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk hubungan kepada diri sendiri ataupun kepada sesama manusia. Dibuktikan bahwasannya Salman bukan hanya sosok yang taat beribadah seperti sholat saja, namun dalam perjalanan bersama Rasulullah ia juga turut berjihad, memenuhi seruan Allah, dengan berperan dalam perang khandaq atau yang kita kenal dengan perang parit, bahkan ia adalah inspirator dalam perang tersebut yaitu dengan membangun parit. Karena inspirasi yang luar biasanya ini, perang menang di tangan umat muslim, hingga Rasulullah mengatakan biasyaronya.


MasyaAllah ketika mendengar kisah Salman Al Farizi ini, hati rasanya tertampar sekali ya sobat. Saya yang sudah berislam sedari lahir, namun hingga sekarang masih merasa belum memberikan hasil yang maksimal bagi agama Islam ini. Ingin sekali menjadi sosok salman Al farizi, yang dimana ia berislam bukan hanya sekedar identitas saja, namun ia buktikan bahwa ketika masuk islam ya harus sami'na WA atho'na, dengar dan taat syariat secara keseluruhan. Dan yang kalau kita tau sobat, Salman ini masuk islam ketika ia beranjak dewasa, lalu kita? Kita yg sedari kecil sudah berislam. Namun pembuktian kita kepada islam mengapa berbeda dengan Salman? Kenapa? Nah, karena Salman berislam menggunakan akal untuk berpikir mencari kebenaran. Sedangkan kita, mungkin jawabannya karena warisan orangtua.


Bukankah seperti itu? Lalu apa bedanya sih berislam dengan berfikir dengan berislam dari warisan orangtua alias ikut2 an?. Dan mengapa itu bisa terjadi? Yaps seperti yg kita tau diawal, banyak orang islam namun pacaran, buka kerudung, melakukan riba. Padahal sejatinya umat muslim tidak begitu, umat muslim harus tunduk dan taat kepada syariat. Inilah dia yg hanya menggunakan islam sebagai identitas saja, yaitu ikut2an orangtua saja, sehingga taat syaratnya setengah2.


Padahal Allah telah berfirman pada surat Al Baqarah ayat 85, yang artinya :

"Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar kepada sebagian (yang lain)? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."

Terkejut gak ketika antunna mendengar ayat ini? Kalau saya sih jujur terkejut banget. Karena yang menyampaikan ini Allah loo sobat… Allah itu sayang banget dengan kita, karena itulah Allah telah mengingatkan kita melalui Al Quran agar kita berjalan didunia ini dijalan yang benar, agar selamat di dunia maupun akhirat.


Maka dari sini bisa kita simpulkan bahwa berislam dengan berfikir, akan menemukan kebenaran islam seperti Salman Al Farizi , yang taat kepada syariat secara keseluruhan, tidak pilih-pilih . Karna ia paham, bahwa sejatinya kita diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah.


Lalu mengapa islam KTP itu bisa terjadi kepada umat islam?





Pertama, karena banyak umat muslim yg tidak peduli dan mau untuk berpikir, mengapa ia ber islam. Akhirnya ia hanyalah sekedar islam KTP.


Kedua, karena lingkungan yg mencetak ia menjadi islam KTP yaitu pen suasanaan hedonisme, liberal, bahkan islamophobia dgn agamanya sendiri, yang dicetak oleh system yang sekuler/ memisahkan antara agama dan kehidupan dunia. Yang sengaja mencetak suasana ini agar umat islam lupa dengan fitrahmya sebagai hamba Allah.


Maka terasa sulit menemukan atau menjadi sosok Salman Al farizi era kini. Yg dia ber islam melalui proses mencari kebenaran dengan berfikir. Karena suasana saat ini memang sangat tidak mendukung untuk taat secara keseluruhan. Namun bukan berarti untuk saat ini sesosok seperti Salman tadi itu benar2 tidak ada ya sobat. Ada kok orang2 yang benar2 totalitas dan maksimal dalam menjalankan syariat Allah SWT, meskipun hidup di jaman yang penuh fitnah ini.

Mau tahu tipsnya seperti apa agar bisa menjadi seseorang yang teguh dalam berislam seperti itu?


Yuk, cek jawabannya >>>

Komentar


Post: Blog2 Post

©2020 Zahrah Leonard

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter
bottom of page