Indonesia Merdeka, Tumbuh dan Tangguh Hanya dengan Islam
- Emma Leonard

- 23 Agu 2021
- 2 menit membaca

Indonesia telah merdeka selama 76 tahun lamanya. Kemerdekaan ini disambut oleh antusiasme masyarakat, terutama atlet Indonesia yang mewakili ajang perlombaan di olimpiade Tokyo 2020.
"Ayo ambil sikap sempurna, berdiri tegak pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Hari Ulang Tahun ke-76 Republik Indonesia, saat lagu Indonesia Raya berkumandang. Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh," seru para atlet. (Merdeka.com/15/08/21)
Angka 76 tahun memang bukanlah angka yang kecil. Jika diumpamakan seperti usia manusia, maka angka tersebut bisa dikategorikan sebagai dewasa yang sudah matang. Memang benar, Indonesia sudah tumbuh dan berkembang dengan berbagai perubahan yang mampu dirasakan.
Negara Indonesia tumbuh dibarengi dengan proses menuju perbaikan dan perubahan dari segala bidang. Negara sudah menunjukkannya dalam bidang infrastruktur seperti pembangunan jalan tol, banyaknya gedung-gedung bisnis di perkotaan, muncul secara masif bisnis pariwisata, dsb. Namun dalam bidang yang lain seperti kesehatan masih minim. Pandemi di Indonesia masih tercatat sebagai tertinggi setingkat dunia. Menurut worldmeter.com, pada tanggal 12-19 Agustus, Indonesia telah memperoleh catatan kasus kematian akibat Covid-19 sebanyak 8.943. Meskipun jumlah tersebut turun dari kasus sebelumnya, yaitu sebesar 11.562, Indonesia masih tercatat sebagai negara dengan kasus kematian akibat virus Covid-19 tertinggi di dunia. Sedangkan nomor dua diduduki oleh Brazil.
Fakta tersebut sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, pandemi sudah dilalui bersama selama satu tahun, namun masih belum ada tindakan yang benar-benar bisa untuk mengusir virus secara total. Problematika inilah yang memacu SDM untuk merancang solusi atas pandemi, seperti temuan obat Covid-19 oleh tim UNAIR pada tahun 2020 silam. Akan tetapi, masih belum ada tindakan lanjutannya hingga sekarang. Padahal jika kontribusi ini ditindaklanjuti dengan segera, maka obat Covid-19 bisa didistribusikan kepada masyarakat untuk langkah mengobati pasien positif Covid-19.
Tindakan lepasnya dukungan negara pada SDM berintelektual menunjukkan ciri khas negara sekuler. Riayah syuunil ummat atau mengurus urusan umat adalah tugas utamanya atau politiknya. Jadi yang dipikirkan yaitu solusi akar dari segala pernasalahan. Pandemi merupakan salah satu masalah di bidang kesehatan. Sedangkan kesehatan merupakan cabang dari bidang perpolitikan. Sistem sekuler kapitalistik -yang melepaskan tanggung jawabnya secara perlahan- saat ini terbukti gagal wujudkan kemerdekaan hakiki dan hanya menghasilkan pertumbuhan semu serta kerapuhan sebuah bangsa menghadapi tantangan pandemi. Sebuah ironi di tengah besarnya SDM.
Negeri ini membutuhkan penerapan Islam secara utuh dan sistemik untuk merdeka, Tangguh dan tumbuh. Islam Kaffah hanya bisa dilaksanakan oleh institusi yang bernama Khilafah. Khilafah dipimpin oleh seorang kholifah.
Pada masa daulah khilafah Abbasiyah, kholifah sangat menghargai penemuan para intelektual. Buku mereka ditimbang dan ditukar dengan emas. Selain itu, untuk memajukan SDM, kholifah memberikan pendidikan gratis bagi seluruh warga negara. Dengan sistem pendidikan dan periayahan yang tepat, maka akan terbentuk SDM yang unggul. SDM yang unggul mendukung negara untuk tumbuh, tangguh dan merdeka.



Komentar