Insiden Penting di Bulan Rajab, dari Sejarah Hingga Masa Kini
- Emma Leonard

- 17 Feb 2022
- 3 menit membaca
Telah datang bulan Rajab, bulan yang mulia yang juga menjadi salah satu dari keempat bulan haram.
Di bulan haram, Allah SWT menjadikan dosa yang jika dilakukan di bulan-bulan haram, maka dosa tersebut menjadi lebih besar. Begitu pula dengan amal ibadah dan pahala. Jika dilakukan di bulan haram, maka nilai amal ibadah dan pahala menjadi besar pula (Syab al-Iman, al Baihaqi).
“Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah SWT ada dua belas dalam catatan Allah pada hari, ketika Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Di antaranya terdapat empat bulan haram (suci). Itulah agama yang lurus. Maka, janganlah kalian menzalimi diri kalian di bulan-bulan itu” Q.S. at Taubah: 36.
Atas dasar itulah, banyak umat Islam yang melaksanakan amal ibadah di bulan ini untuk mengejar pahala. Berbagai amalan dilakukan seperti puasa, infaq, sedekah, dan lain sebagainya. Bulan Rajab sendiri memiliki makna yaitu bulan keagungan, kebesaran, atau kemuliaan. Selain itu, banyak peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan haram ini, yaitu;
Terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj di tahun ke-10 kenabian. Nabi Muhammad SAW mendapatkan oleh-oleh yaitu perintah untuk melaksanakan sholat dan ditetapkannya Rasul sebagai pemimpin bagi seluruh umat manusia, ketika Rasul menjadi imam shalat para nabi di Baitul Maqdis.
Terjadi peristiwa pertemuan pertama kali Nabi SAW dengan kaum Anshar. Dengan adanya peristiwa ini, dakwah Islam bisa tersyiar ke seluruh Jazirah Arab dan menjadi titik tolak awal dakwah ke luar Jazirah Arab.
Berubahnya kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.
Penaklukkan baitul Maqdis oleh Shalahuddin al Ayyubi dalam perang Hittin pada tanggal 2 Oktober 1187 M atau 28 Rajab 583 H. Baitul Maqdis kembali ke tangan kaum Muslimin setelah 88 tahun lamanya dikuasai oleh tentara Salib.
Abolisi Khilafah pada tanggal 28 Rajab 1351 H oleh Mustafa Kemal. Penghapusan Khilafah sangat berdampak besar bagi seluruh umat Islam. Dampaknya bisa dirasakan hingga kini, yaitu tidak bisa melaksanakan seluruh isi dari syariat Islam.
Upaya penjajah kafir barat untuk menghancurkan Islam sudah dijalankan sejak lama. Mereka bahkan bersumpah bahwa Islam adalah musuh nomor satu di dunia, setelah Uni Soviet runtuh. Di salah satu artikel yang ditulis oleh profesor Samuel P. Huntington pada tahun 2004, disebutkan “The rhetoric of America’s ideological war with militant communism has been transferred to its religious and cultural war with militant Islam”.
Jika ditelisik lebih jauh lagi, kebencian kafir penjajah sudah terbentuk sejak daulah pertama kali didirikan di Madinah hingga daulah Islam dihancurkan oleh agen Mustafa Kemal. Kebencian mereka sudah tertulis di dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 120 :
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”
Tidak cukup hanya dengan menghancurkan Khilafah saja, akan tetapi para penjajah juga memberikan racun tsaqofah asing kepada umat Islam. Nasionalisme, sekularisme, feminisme, dan isme-isme yang lainnya terus menerus disodorkan kepada umat Islam, sehingga umat Islam semakin jauh dari bayangan tentang khilafah, yaitu daulah Islam yang sesungguhnya. Selain itu, kafir penjajah juga menanamkan tentang Islamophobia dan moderasi beragama. Semua ini adalah “menu” komplit untuk menjauhkan umat dari sosok Khilafah. Kini, Islam hanya dipahami sebagai agama ritual semata. Bukan sebagai agama yang mengatur sistem ketatanegaraan karena dianggap tidak sesuai dengan konteks zaman. Lalu, ada beberapa dalih jika Islam diterapkan dalam aspek negara maka termasuk ke dalam ranah radikal.
Padahal, Allah SWT telah memerintahkan untuk menerapkan Islam secara kaffah di dalam Surat Al-Baqarah ayat 208 :
“hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”
Selain itu, agama Islam itu cocok untuk sepanjang masa dan di tempat manapun. Hal ini tercantum di surat Al Anbiya ayat 107 :
“tiadalah kami utus engkau wahai Muhammad, kecuali hanya sebagai rahmat bagi semesta alam”
Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk masuk Islam secara keseluruhan atau secara kaffah. Artinya, umat Islam harusnya melaksanakan syariat Islam secara kaffah. Terlihat sekarang ada beberapa hukum Islam yang tidak bisa diterapkan, seperti sanksi cambuk dan rajam bagi pezina dan pelaku kekerasan seksual. Padahal jika diterapkan maka akan memberikan efek jera kepada para pelaku. Akan tetapi, umat Islam sekarang menerapkan sistem dan solusi yang ditawarkan oleh Barat.
Di momen bulan Rajab ini, sudah sepantasnya bagi seluruh umat Islam untuk memasifkan kembali atau menjernihkan kembali nama Islam yang sudah dinistakan oleh api kebencian kafir Barat. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW berdakwah tentang Islam dan perjuangan para panglima Islam untuk mensyiarkan suara Islam di bumi milik Allah SWT. Wallahua’lam[]




Komentar