Perkembangan Zaman Mempengaruhi Psikologi Remaja ?
- Emma Leonard

- 22 Des 2022
- 3 menit membaca
Penulis : Inez Amanda Fatmawati
Mahasiswa
Sudah menjadi rezeki kita hidup di zaman yang semua serba digital, semua serba cepat, mudah dan instan. Apalagi waktu pandemi ini semua serba online, bagi para pelajar semua akses mata pelajaran di dapat secara online. Akhirnya mau ga mau para pelajar itu terus bersinggungan dengan gadget.
Nah cuman nih ya sob, selain dijadikan media belajar, gadget juga banyak dipakai untuk mencari hiburan, sosial media dan game online sama para pelajar. Mereka sibuk mencari popularitas dan mengikuti gaya hidup para idola mereka, sampai-sampai mereka lebih aktif berinteraksi di sosial media ketimbang dunia nyata lho. Akhirnya merek cenderung menutup diri, jarang berinteraksi di dunia nyata dan ujung-ujungnya mereka mengalami kesulitan dalam berinteraksi.
Nah, sama para Psikolog kondisi ini dianggap jadi cikal bakal perubahan psikologi dan perkembangan anak sob. Emang bener nih, gadget itu jadi penyebab perubahan psikologi dan perkembangan anak?. Sob, gadget itu sebenarnya hasil perkembangan sebuah teknologi. Kalo kata seorang mujtahid terkenal Syekh Taqiyyudin dalam kitabnya Nizhamul Islam di Bab Hadlarah, dijelaskan bahwa produk kemajuan sains dan perkembangan teknologi atau industri bersifat āMadaniyahā artinya teknologi dalam Islam itu bersifat netral dan bebas nilai. Jika bebas nilai, kenapa penggunaan gadget bisa sampai mempengaruhi psikologi dan perkembangan anak?
Jika ditelisik, diamati dan dihayati ternyata kehidupan dunia saat ini dipengaruhi oleh pemikiran sekuler, dimana sebuah pemahaman yang memisahkan agama dari kehidupan. Menurut aturan ini kehidupan hanya digunakan untuk meraih manfaat saja, thatās why gadget yang sebenarnya bebas nilai malah menjadi masalah bagi remaja. Soalnya ketika para remaja ini memanfaatkan gadget sob, landasan perbuatan mereka ialah sekuler, mereka hanya mengejar kesenangan sesaat yang ditawarkan game-game online dan sejenisnya. Apalagi game-game sekarang juga bisa menghasilkan uang, sosial media pun sangat memfasilitasi jiwa-jiwa kaum flexing. Akhirnya mereka merasa nyaman dengan semua itu hingga lupa kehidupan nyatanya.
Salah satu dari pengarusan gadget, ialah digitalisasi. Digitalisasi tidak hanya membawa teknologi yang bebas nilai. Namun, teknologi digital ditumpangi oleh pemikiran khas ideologi kapitalisme, yaitu sekularisme, liberalisme, hak asasi manusia (HAM), individualisme, dan materialisme.
Digitalisasi tidak sekadar menjadi senjata Barat untuk mengeruk ekonomi umat Islam, tetapi juga menjadi senjata untuk merusak kepribadian para pemuda muslim. Melalui teknologi digital, terjadilah injeksi pemikiran sekuler, pornografi, kekerasan, penyimpangan seksual, gaya hidup individualis dan hedonis, dan bahkan apatis terhadap agama. Akibatnya, para pemuda muslim kehilangan profil Islam.
Para pemuda muslim menjadi sasaran deradikalisasi melalui konten sekuler radikal pada media digital. Mereka mengalami penyesatan terkait hakikat Islam sebagai agamanya. Islam yang mereka indra dari media digital adalah Islam yang moderat, yaitu antitesis dari Islam kafah. Akibatnya, mereka tidak tahu gambaran Islam sebagai ideologi yang sahih.
Dengan bekal Islam moderat ini, para pemuda muslim kehilangan loyalitasnya terhadap Islam. Ketika Allah, Rasulullah, dan Islam dihinakan, mereka tidak terpanggil untuk membela. Ketika hukum Islam dicampakkan, mereka tidak merasa keberatan. Ketika berbagai keharaman seperti zina, khamar, homoseksualitas, nikah beda agama, kemurtadan, dan lain-lain dilegalkan, mereka mendukungnya.
Ketika kekayaan alam mereka dirampok atas nama investasi, mereka diam, agar tampak inklusif. Ketika para kapitalis menguasai ekonomi negeri ini, mereka rida. Dan bahkan ketika kezaliman demi kezaliman dilakukan oleh penguasa, mereka diam saja, agar tampak sebagai pribadi yang toleran.
Ketika kepribadian para pemuda sudah demikian sesat, lalu bagaimana nasib umat dan negeri ini? Kita akan makin terjajah dan dizalimi hingga level yang sulit dibayangkan. Padahal, para pemuda ini adalah cucu-cucu para pahlawan Islam seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan sebagainya. Para pahlawan ini telah melawan dan mengusir para penjajah dengan perlawanan yang sengit hingga harus terlepas nyawa dari raga. Masa mereka hanya terpaut beberapa generasi dari masa kita hari ini. Namun, profil para pemuda muslim hari ini sungguh jauh dari sosok para pejuang Islam. Hal ini tidak boleh dibiarkan.



Komentar